Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perkembangan Anak. Tampilkan semua postingan
Sebuah grup di Universitas Delaware mengadakan penelitian panjang terhadap anak usia pra-sekolah (usia 5 tahun) selama 4 tahun. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak-anak yang mampu memahami ekspresi wajah orang lain dengan baik ternyata lebih jarang mengalami masalah dalam perilaku sosial maupun gangguan belajarnya.
Inti dari penelitian ini adalah bahwa pemahaman emosional dan kemampuan anak dalam mengatur emosinya sangat penting bagi anak dalam menghadapi lingkungan sosialnya di masa depan. Istilah populernya adalah, disamping IQ, EQ (Emotional Quotient/Kecerdasan Emosi) juga merupakan faktor yang sangat penting dalam mendukung kesuksesan anak di masa depan.

Adalah tugas kita sebagai orangtua untuk mengajarkan kepada anak kita tentang cara mengungkapkan perasaan yang sedang dialami oleh anak, dan mengenal nama dari perasaan tersebut. Dengan demikian anak akan menjadi mengerti perasaan orang lain dari ekspresi wajahnya. Anak yang tidak bisa mengungkapkan perasaannya cenderung untuk berperilaku kasar dalam bentuk kekerasan seperti memukul, melempar, dsb.

Bagaimana cara mengajarkan hal ini kepada anak sejak dini ?

Banyak cara yang bisa dilakukan, misalnya adalah :

1. Bercerita/mendongeng kepada anak tentang cerita yang berisi berbagai ekspresi perasaan dari para pemeran dongeng tersebut. Dalam bercerita ini anda perlu menunjukkan ekspresi tersebut dengan sungguh-sungguh, sehingga anak dapat menangkap perasaan yang ada di balik ekspresi wajah anda.

2. Jika anda bisa menggambar berbagai ekspresi wajah seperti tertawa, sedih, marah, dsb., anda bisa menggambarkannya di setiap muka ujung jari, dan ketika mau tidur, anda bisa bercerita sambil menunjukkan gambar tersebut. Setelah itu, anda tanyakan kepada anak anda, misalnya, Adi hari ini mengalami gambar yang ada di jari mana ?.

3. Dan masih banyak lagi…

Bagi yang belum pernah menerapkannya….

Selamat Mencoba !

oleh : Taufan Surana (www.balitacerdas.com)

Seberapa Cerdaskah Anak Anda??


Bicara tentang kecerdasan seorang anak, kita mungkin akan segera menghubungkannya dengan IQ. Tetapi, tahukah anda apa IQ (Intelligence Quotient) itu ?
Berbagai definisi tentang IQ ini bisa diperoleh dari berbagai sumber, dan yang paling mudah untuk dipahami adalah seperti yang diilustrasikan di bawah ini.
IQ = (Usia Mental) / (Usia Kronologis) x 100
Usia Mental adalah kapasitas otak yang diukur berdasarkan usia rata-rata anak yang memiliki standard berpikir yang sama.
Usia Kronologis adalah umur anak ketika dilakukan tes IQ kepadanya.
Misalnya, seorang anak usia 10 tahun mempunyai IQ 170, didapatkan dari perhitungan :
17 / 10 x 100 = IQ 170
Artinya, anak tersebut termasuk anak jenius karena dengan usianya yang 10 tahun, dia mempunyai angka tes orang yang berusia 17 tahun.
Hal yang perlu diperhatikan sekali disini, nilai IQ seperti diatas biasanya adalah nilai untuk mengukur kecerdasan AKADEMIK atau IQ VERBAL anak, yaitu kemampuan anak untuk belajar dengan cepat dengan cara membaca dan menulis.
Tentu saja, kemampuan anak untuk mencapai nilai IQ seperti di atas yang lebih baik adalah penting, TETAPI itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan apakah anak tersebut tergolong cerdas atau tidak.
Mengapa ?

Howard Gardner di dalam bukunya yang berjudul Frames of Minds menunjukkan bahwa ada 7 kecerdasan yang berbeda

1. Linguistik Verbal
Kecerdasan yang biasanya dipakai oleh institusi pendidikan untuk mengukur IQ seorang anak, seperti yang dijelaskan di atas.

2. Numerik
Kecerdasan yang berhubungan angka atau matematika.

3. Spasial
Kecerdasan yang berhubungan dengan kreatifitas seperti
kesenian, desain, dsb.

4. Fisik
Kecerdasan yang berhubungan dengan kemampuan fisik seperti para atlet olahraga, dsb, termasuk juga orang yang cepat belajar dengan cara melihat, menyentuh dan mengerjakan sesuatu secara langsung.

5. Lingkungan
Kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang mampu berhubungan dengan alam seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, seperti misalnya pelatih binatang, dsb.

6. Interpersonal
Kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang mampu berbicara dan berkomunikasi dengan mudah dengan orang lain.

7. Intrapersonal
Kecerdasan ini sering disebut dengan kecerdasan emosi, atau emotional intelligence, yaitu kemampuan seorang anak untuk mengendalikan atau mengatur dirinya sendiri.

Daniel Goleman, di dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence, mengatakan bahwa kecerdasan emosi ini adalah yang TERPENTING dari kecerdasan yang lain.

Hal ini terbukti bahwa banyak sekali orang yang sukses bukan karena IQ-nya yang tinggi, tapi karena kecerdasan emosinya yang sangat baik.

Yang ingin saya katakan disini adalah, jika anda menginginkan anak anda tumbuh menjadi cerdas, anda perlu melihat dengan seksama, kecerdasan seperti apa yang dimiliki secara alami oleh anak anda.

Tentunya tidak mudah untuk menemukannya pada waktu yang singkat, karena seseorang anak bisa memiliki berbagai kecerdasan sekaligus. Contohnya, seorang arsitek yang hebat mempunyai kecerdasan no. 1, 2 dan 3 diatas sekaligus.

Jadi, berikan kesempatan anak anda untuk melakukan sebanyak mungkin kegiatan yang bervariasi, sehingga dia akan menemukan kegiatan yang paling sesuai untuk dirinya.

Selain itu, jangan bosan-bosan untuk melatih kecerdasan emosi anak sejak dini. Misalnya, berikan kesempatan kepada anak untuk merasa kecewa, seperti misalnya dengan tidak menuruti segala kemauannya.

Tetapi yang lebih penting disini adalah kemampuan orang tua untuk mengajarkan kepada anak bagaimana cara mengatasi rasa kecewa tersebut. Jika anda salah dalam melakukannya, anda justru merusak kecerdasan emosi anak anda.

Satu hal TERPENTING dalam mengasuh anak menjadi cerdas adalah :

JANGAN membanding-bandingkan anak anda dengan anak lain!

Hal ini akan sangat menghambat perkembangan kecerdasan anak anda.

Setiap anak PASTI mempunyai kelebihan dari anak lain. Lihatlah selalu kelebihan anak anda, dan jangan etrfokus pada kelemahannya.

Pada dasarnya semua anak dilahirkan dalam keadaan sangat cerdas. Sikap dan pengetahuan serta kemampuan orang tua-lah yang sangat menentukan apakah kecerdasan anak akan semakin berkembang atau justru semakin terkubur tanpa sempat terlihat.

Memang cukup banyak memerlukan energi, waktu dan biaya untuk menjadi orang tua yang baik.

Walaupun begitu, jangan lupa untuk selalu mengingat juga Langkah Kesepuluh dari 10 Tindakan Penting untuk Merangsang Perkembangan Otak Anak seperti yang dijelaskan di ebook 3 Tahun Pertama yang Menentukan. Jika anda mengabaikan langkah kesepuluh ini, anda tidak akan bisa menjadi orang tua
yang efektif dalam mengasuh anak anda.





Jembatan dalam mengembangkan kemampuan anak

Tahukah Anda, bayi berusia 3 bulan otaknya telah membentuk koneksi yang jumlahnya kurang lebih 2 kali yang dimiliki oleh orang dewasa? Berapa jumlahnya? Yaaah…sekitar 1000 triliun koneksi lah… Wow!
sebuah koneksi akan semakin kuat terbentuk dalam otak bayi apabila kejadian atau pengalaman yang memicu terbentuknya koneksi tersebut semakin sering terjadi.
Ratusan kejadian atau pengalaman yang dialami oleh bayi Anda akan memicu terbentuknya ratusan koneksi dalam otaknya. Ingat, sekali lagi, semakin sering si bayi mengalami suatu kejadian, semakin kuat koneksi tersebut terbentuk dalam otaknya.
Inilah penjelasan ilmiahnya mengapa bayi dan anak-anak kecil selalu diibaratkan sebagai kertas putih…terserah si orang tua ingin menulis apa di atas kertas itu. Keburukankah atau kebaikan?

Beberapa ahli filsafat pendidikan berpendapat dalam perkembangan 7 pertumbuhan anak terdapat beberapa prinsip yang perlu diberikan yaitu

1. Musik /Suara . hal ini dapat dibuktikan bahwa sejak kita lahirpun secara tidak langsung seorang ibu akan memberikan rangsangan berupa musik dalam bentuk nyanyian atau shalawat yang sering diberikan kepada anaknya .Dan lebih dapat mengembangkan kreativitas anak.

2. Olahraga (Gym) dengan olahraga sianak akan terbentuk fisik yang siap untuk beraktifitas .Yang melatih koordinasi tubuh . Terkadang sering kita jumpai terdapat beberapa anak yang mempunyai tingkat kecerdasan tinggi akan tetapi jarang untuk berolah raga .Yang akibatnya pola pertumbuhan mengalami hambatan seperti kurang makan atau badan yang tidak seimbang ( kurus) .Yang berakibat sering sakit pada anak tersebut .

3. Tematik ( berhitung) dengan belajar berhitung seorang anak akan dapat lebih mengembangkan logika berpikir . Dengan berhitung pula seorang anak akan belajar arti kejujuran dan berpikir sistimatis .

4. Agama hal ini pula tidak ketinggalan karena dengan belajar agama seorang anak akan mengetahui akan keberadaannya .

Bagaimana metode untuk dapat memberikan 4 prinsip tersebut kepada buah hati sekaligus serta kapan........???

Hal yang paling mudah anak pada usia dini dikenalkan musik sedini mungkin dan alangkah bagusnya jika seorang anak sejak dini sudah dikenalkan dengan salah satu alat musik .

Dengan alat musik seorang anak akan dapat belajar cara bermain musik ,
dengan alat musik seorang anak dapat melakukan olahraga (koordinasi ) tubuh tangan , mata, telinga dan kaki , dengan alat musik pun seorang anak dapat belajar berhitung dengan menggunakan tempo nada dan dengan musik kita dapat memberikan pelajaran agama

Dalam melakukan prinsip tersebut tentunya keterlibatan orang tua dapat memberikan contoh nyata kepada anaknya memegang peranan penting .Tidak semata mata hanya dapat memberikan less atau kusus kepada anaknya .
Jika tidak ada keterlibatan ya .... minimal orang tua dapat bernyanyi untuk buah hati . Tahukah Anda, dengan bernyanyi kepada bayi Anda ketika dia menangis, berarti Anda telah memicu terbentuknya suatu koneksi otak yang akan berdampak positif pada emosi si bayi?